Investor Tertarik Dengan Bandara Komodo

Investor Tertarik Dengan Bandara Komodo – Rencana pemerintah mengajak pihak swasta membangun Bandara Labuhan Bajo di Pulau Komodo Nusa Tenggara Timur (NTT) sukses memikat ratusan investor. Proyek bernilai Rp 3 triliun ini dinilai prospektif lantaran NTT berpotensi jadi destinasi wisata andalan. Setidaknya, ada 150 calon investor dan konsultan yang hadir dalam kegiatan Market Sounding Proyek Bandara Labuan Bajo yang digelar Badan Koordinator Penanaman Modal (BKPM), Selasa (25/9).

Investor Tertarik Dengan Bandara Komodo

Investor yang datang mencakup sejumlah bidang, seperti manajemen bandara udara, kontraktor, perbankan dan lembaga keuangan. Mereka antara lain GVX Services Indonesia GMR Airport, PT Angkasa Pura I, PT Angkasa Pura II, PT Dirgantara Petroindo Raya, PT Cardig Aero Services Group, Muhibbah Engineering BHD, PT Wijaya Karya Bangun Gedung, PT Sojitz Indonesia, PT Pembangunan Perumahan.

Selain itu juga ada Astra Infrastructure, Mitsubishi Corporation, Hyundai Enginee- ring Co, Ltd, Construction eight Division Corp. Ltd, Bank of Tokyo-Mitsubishi UF, BNP Paribas, Mitsui, Marubeni Corporation, ITOCHU Corporation, Indika Logistic. Perwakilan dari kedutaan besar negara sahabat juga antusias mengikuti market sounding. Direktur Bandar Udara Kementer i an Perhubungan (Kemhub) Polana B. Pramesti menjelaskan, Bandara Labuan Bajo membutuhkan investasi sebesar Rp 3 triliun.

Jumlah itu terdiri dari Rp 1,17 triliun biaya capital expenditur dan sebanyak Rp 1,83 triliun biaya operational expenditure. Dana tersebut akan digunakan untuk perluasan landasan pacu sebesar 45×200 meter, pengerasan taxiway PCN 50 menjadi PCN 60, perluasan tempat parkir pesawat atau apron sebesar 11.100 meter persegi, hingga perluasan terminal penumpang domestik serta internasional. “Investor akan mendapat hak konsesi 25 tahun dengan return equity 16,18% dan Internal Rate of Return (IRR) sebesar 15,65%,” jelas Polana, kemarin.

Dalam market sounding tersebut, pemerintah menawarkan proyek Bandara Labuan Bajo melalui skema Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU). Dengan skema itu, investor akan masuk mulai dari pembangunan, pengoperasian, hingga pemeliharaan fasilitas. Pelaksana Tugas (Plt) Deputi Bidang Perencanaan Penanaman Modal BKPM Wisnu Wijaya Soedibjo mengaku, sejumlah investor yang hadir dalam market sounding sudah menyatakan minat untuk berinvestasi di proyek bandara tersebut.

“Nanti akan ditender, untuk diseleksi,” ungkap Wisnu tanpa menyebut identitas investor yang sudah menyatakan minatnya. Setelah market sounding, pemerintah menargetkan pra kualifikasi dan lelang KPBU pada blan Oktober 2018. Dengan begitu, penetapan hasil lelang bisa diputuskan pada November 2018.

Adapun untuk proses financial close diharapkan selesai pada semester I-2019 sehingga proses konstruksi sudah mulai dilakukan pada semester II-2019. Nur Isnin Istiartono, Direktur Keamanan Penerbangan Kemhub bilang, proyek ini strategis karena Pulau Komodo akan dikembangkan sebagai destinasi wisata unggulan. Proyek ini satu dari lima pilot proyek utama KPBU. Selain Labuan Bajo, juga ada proyek kereta api Parepare di Makasar, pelabuhan Baubau Sulawesi Tenggara dan Anggrek di Gorontalo, lalu proyek crossing ground di Bekasi dan TOD Poris Plawad yang juga akan ditawarkan.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *