Jatuh Hati pada Investasi Saham

Dunia investasi bukanlah suatu hal yang baru bagi M. Renny Raharja. Wanita yang kini menjabat sebagai Executive Vice President Intermediary Business Schroders Investment Management Indonesia ini sudah berkenalan dengan dunia investasi sejak dini. Maklum, sang ayah merupakan pengusaha properti. Dari pekerjaan sang ayah, Renny memahami konsep investasi melalui properti. Selain itu, Renny memang jatuh hati pada bidang ekonomi. Dia bahkan terbang ke Negeri Paman Sam dan menempuh pendidikan di University of Oregon. Di sana, Renny mengambil pendidikan double major, yakni di keuangan dan akuntansi. Dia mencoba menggabungkan kedua bidang tersebut.

Dari proses inilah, pengetahuan Renny tentang investasi semakin terasah. Dia juga sempat bekerja di Standard Chartered sejak 2003. “Dalam berinvestasi, saya juga punya mentor yang punya peran besar,” kisah ibu dua anak ini. Ia tidak menyebutkan identitas si mentor. Yang jelas, si mentor inilah yang mulai mengenalkan Renny dengan beragam hal mengenai dunia investasi. Dia juga belajar secara otodidak mengenai investasi, khususnya saham. Tentu saja, dalam proses belajar investasi saham, Renny juga sempat mengalami kerugian.

analisa saham

Dari sini, Renny mengaku banyak belajar. Dia juga tidak putus asa untuk terus mengasah ilmu. Kerugian yang dialami, justru menjadi pelajaran yang berharga. Setelah memiliki cukup dana, Renny mulai menjajal properti. “Karena orang tua latar belakangnya properti, maka saya melihat properti menjadi suatu investasi yang aman,” jelas Renny. Hanya saja, properti termasuk tidak likuid. Jika terdesak dan membutuhkan uang, maka properti terpaksa harus dijual dengan harga miring.

Karena itu, Renny masih lebih menyukai instrumen saham. Menurut dia, selama ekonomi negara tumbuh, maka instrumen saham tetap menjanjikan, asalkan kita memilih saham yang tepat. Tapi karena tidak bisa terus-terusan memperhatikan pergerakan saham, Renny memilih berinvestasi di saham melalui reksadana. Menurutnya, dengan reksadana, dia juga bisa mengukur kapan cukup mengambil untung, serta kapan harus menekan kerugian. Selain itu, ia merasa saat berinvestasi langsung di saham, dirinya agak sulit mengontrol emosi dan sulit melihat secara utuh kondisi portofolio.

“Padahal ketika lihat risikonya, itu bisa jadi menimbulkan rugi yang sangat signifi kan,” terang dia. Alhasil, ia pun semakin mantap memilih produk reksadana. Pentingnya disiplin Renny menerapkan disiplin tinggi dalam melakukan investasi. Setidaknya, setiap bulan dia menyisihkan 10% dari pendapatan bulanannya untuk investasi. Kebiasaan itu sudah dia lakukan sejak pertama kali bekerja di Schroders pada 2006 silam. Dia mengaku hasilnya lumayan. Meskipun pada 2008 dana investasinya sempat turun 40%, namun pada tahun berikutnya nilai investasinya justru naik kencang, bahkan mencapai 100%.

“Jujur, waktu itu degdegan tapi karena naik atau rebound, akhirnya lunas,” kenang dia. Renny memberi tips, seharusnya saat market terkoreksi, investor mengambil kesempatan masuk ke pasar dan membeli saham dengan harga murah. Dia menyarankan, investor bisa masuk secara bertahap. “Karena yang bisa membuat rugi adalah beli dan jual di waktu yang tidak tepat,” kata penggemar Menteri Susi Pudjiastuti ini. Kesukaannya terhadap saham membuatnya mengklasifi kasikan dirinya sebagai investor agresif cenderung moderat. Kepada investor pemula, Renny menyarankan agar tberani dan rajin menggali informasi. Apa lagi, saat ini informasi sudah begitu mudah didapatkan.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *