Diary Ibu : Pengalaman Kerja di Saat Hamil

Pengalaman Kerja di Saat Hamil

Pengalaman Kerja di Saat Hamil – Kehamilan saya merupakan mukjizat yang diberikan Tuhan. P sal nya, 2 minggu setelah menikah, saya sempat divonis sulit hamil, karena ada myoma uteri bersarang di rahim dan menutup jalan lahir. Namun 2 minggu setelah mendapatkan vonis tersebut , saya malah dinyatakan hamil. Saya sampai mendatangi 3 dokter untuk memastikannya. Semua dokter mengiya kan dan menganggapnya sebagai mukjizat.

Sangat Sensitif
Meskikehamilan ini adalah keajaiban, saya tidak memperlakukannya secara berlebihan. Saya tetap bekerja sebagai fi nance accounting sebuah perusahaan. Namun, saya harus melewati awal kehamilan yang sangat sulit. Bukan kmual atau muntah, tetap akibat beban pekerjaan yng sangat banyak. Ya! Saya

dinyatakan hamil di akhir tahun, di saat saya juga harus menyusun laporan keuangan akhir ahun, audit eksternal hunan, dan lainnya. Stres melanda saya dihujani semakin ba-nyak pekerjaan oleh atasan dan harus menghadapi auditor asing yang permintaannya tidak kalah rumit. Tidak jarang saya menangis karena merasa tidak kuat dengan beban pekerjaan yang diberikan. Entah mungkin karena sedang hamil, perasaan saya juga lebih sensitif.

Padahal kalau dipikir-pikir, pekerjaan tersebut saya hadapi setiap tahun, tetapi kali ini terasa sangat berat. Setiap hari, saya terpaksa pulang malam untuk menyelesaikan pekerjaan. Saya bahkan hampir melahirkan prematur di usia kehamilan 6 bulan. Selain stres, hal itu juga terjadi karena saya kelelahan naik turun-tangga ke lantai 3, karena kantor saya tidak memiliki lift. Saya kemudian dipanggil atasan dan manajer HRD untuk membahas kondisi kehamilan saya. Mereka sesungguhnya sangat peduli dengan kehamilan saya dan memberikan semangat, agar saya tidak stres karena pekerjaan. Setelah diskusi tersebut, saya merasa lebih tenang.

Baca juga : Makanan bayi 6 bulan

Berakhir Indah Ujian kehamilan saya ternyata tidak berhenti sampai di sana. Saya hampir mengundurkan diri pada usia kehamilan 7 bulan, karena terjadi kesalahpahaman dengan rekan kerja. Derai air mata pun mengiringi saat saya menceritakan hal tersebut kepada suami. Ia sebenarnya tidak melarang saya berhenti bekerja, namun ia meminta saya untuk memikirkannya secara matang. Saya kemudian tersadar bahwa saya tetap bekerja demi kepentingan bayi saya nantinya. Ujian demi ujian akhirnya bisa saya lewati dan kebahagiaan mulai menghampiri. Saya mendapatkan apresiasi dari atasan, karena sudah mengerjakan semua laporan akhir tahun dengan sangat baik. Saya pun berhasil menyandang gelar Master di usia kehamilan 8 bulan dan menjalani wisuda, meski dengan perut besar.

Ketika dinyatakan hamil anak pertama , saya tetap aktif bekerja sebagai supervisor quality control di sebuah pabrik pengolahan makanan. Pekerjaan saya tergolong melelahkan untuk seorang wanita, apalagi dalam keadaan mengandung. Setiap hari, saya harus berkeliling mengecek pekerjaan 12 orang anak buah yang ditempatkan di beberapa lokasi berbeda untuk memastikan produk dibuat sesuai SOP yang ditetapkan.

Dukungan Rekan Kerja
Saya cukup beruntung, karena kehamilan saya tergolong mudah. Saya memang sempat mengalami mual di awal kehamilan , namun hanya di pagi dan malam hari, sehingga tidak mengganggu pekerjaan. Hanya saja, saya sering dilanda rasa kantuk yang luar biasa di setiap jam 10 pagi. Saya pun mengatasinya dengan mengajak beberapa rekan kerja untuk berdiskusi tentang pekerjaan.

Setelahnya , kantuk saya menghilang dengan sendirinya . Meski harus bekerja saat hamil, saya tidak pernah merasa kesulitan. Apalagi, semua rekan kerja mendukung saya agar bisa menjalani kehamilan dengan nyaman. Saya pun diperlakukan cukup ‘istimewa’ oleh semua anak buah saya yang kebetulan adalah pria. Mereka selalu mengingatkan saya untuk berhati-hati jika harus memasuki area yang licin. Tidak jarang, mereka juga menawarkan untuk menggandeng tangan saya agar tidak terjatuh. Lucunya, selama hamil saya justru merasa nyaman jika harus memasuki gudang penyimpanan produk yang bersuhu -18° Celcius. Normalnya saat memasuki gudang tersebut, seseorang harus mengenakan jaket bulu angsa, masker khusus hidung sebanyak 4 lapis, sarung tangan tebal, dan maksimal bertahan di dalamnya selama 1 jam. Namun, saya mampu bertahan di gudang selama 30 menit tanpa jaket bulu angsa.

Rasa panas dan gerah yang biasanya dirasakan saat hamil seketika hilang saat saya berada di sana. Itulah mengapa, saya sangat senang berada di gudang. Haha.

Rezeki Si Kecil
Perlakuan yang baik dari rekan kerja ternyata tidak saya dapatkan dari atasan. Ia tidak terlalu peduli dengan keadaan saya yang sedang hamil. Saya pun berusaha menenangkan diri dengan menanamkan bahwa itu terjadi karena ia pria yang tidak pernah m kehamilan. Namun, sesuatu yang kurang menyenangkan sempat terjadi. Berhubung saya adalah pindahan dari kantor pusat ke pabrik dan belum bekerja di sana selama 6 bulan, atasan tidak mengizinkan saya cuti hamil selama 3 bulan. Meski perasaan campur aduk, saya tetap berusaha menyelesaikan setiap tanggung jawab dengan sebaik-baiknya. Seiring berjalannya waktu, kabar baik datang. Saya ternyata bisa mendapatkan hak saya sebagai karyawan swasta yang sedang mengandung.

Saya berhak cuti selama 3 bulan dengan gaji tetap dibayarkan sesuai peraturan pemerintah dalam UU Ketenagakerjaan. Betapa bahagianya saya mendengar kabar tersebut. Saya menganggap ini sebagai rezeki saya dan Si Kecil. Kerja keras dan ketulusan saya dalam bekerja akhirnya memberikan hasil yang baik bagi kami berdua.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *