Puisi dari Bumi Raflesia Bag. 1

Bunyi dol menandai pembukaan Festival Sastra Bengkulu, Jumat malam, 13 Juli lalu. Alat musik perkusi khas Bengkulu itu ditabuh oleh pelaksana tugas Gubernur Bengkulu, Rohidin Mersyah; Sutardji Calzoum Bachri; Ketua Panitia Festival, Willy Ana; dan Rektor IAIN Bengkulu, Prof. Dr Sirajuddin. Mereka begitu bersemangat.

Bahkan Sutardji memukul dol nyaris seperti kerasukan, belum berhenti meskipun yang lain sudah mengakhiri tabuhannya. Festival Sastra Bengkulu bertema “Sukarno, Cinta dan Sastra” itu melibatkan sekitar 100 sastrawan Indonesia dan negeri tetangga.

Selain Sutardji, sastrawan yang hadir antara lain Ahmadun Yosi Herfanda, Emong Soewandi, L.K. Ara, Fakhrunnas M.A., Zulfaisal Putra, Jabbar, Isbedy Stiawan Z.S., Bambang Widiatmoko, Iwan Kurniawan,Mezra E. Pellondou, J. Kamal Farza, Tulus Wijanarko, Anwar Putra Bayu, Zaim Rofiqi, Jumari H.S., Pilo Poly, Rohani Din (Singapura), Siwi Widjayanti, Muhammad Subhan, dan Mukti Sutarman.

festival sastra

Gubernur Rohidin sangat mengapresiasi atas kerja keras panitia festival karena sangat bersemangat dan bermotivasi tinggi, dengan begitu kegiatan yang bertaraf nasional tersebut telah sukses membawa semua penyair dari segala penjuru Indonesia dan negara tetangga.

“Tanpa itu, bagaimana mungkin Festival Sastra Bengkulu ini bisa terlaksana dengan waktu persiapan yang tak panjang dan anggaran yang terbatas pula,” katanya. Ketua panitia Willy Ana mengisahkan bahwa gagasan ini dimulai pada Desember 2017.

Kemudian ia mengajak sejumlah sastrawan dan pegiat sastra untuk mewujudkannya, termasuk mengirim konsep acara dalam bentuk proposal kepada Gubernur Bengkulu. Pemerintah Provinsi Bengkulu kemudian mengundang Willy Ana bersama penggagas lain untuk mendiskusikan acara tersebut.

Bahkan, menurut penyair asal Bengkulu yang tinggal di Jakarta ini, Pemerintah Provinsi membentuk panitia pendamping yang diketuai oleh Rehal Ikmal, Kepala Biro Pemerintahan dan Kesra, untuk memastikan kegiatan ini bisa terlaksana dengan baik.

Panitia pendamping dari Pemerintah Provinsi, tutur Willy Ana, berisi para pejabat di sejumlah dinas terkait. Pemerintah Provinsi memfasilitasi acara, termasuk gedung, makan, dan transpor dalam kota.

Namun Pemerintah Provinsi tidak bisa membiayai pengoperasian dan hal-hal lain di luar fasilitas karena festival itu tidak masuk anggaran pemerintah provinsi. “Kami pun berbagi tugas untuk mendapatkan sponsor dan ternyata tidak mudah,” ia menjelaskan.

Hanya dua sponsor yang membantu: satu di Jakarta dan satu sponsor lainnya di Bengkulu. Akibatnya, Willy Ana bersama penggagas lainnya harus patungan dan meminjam dari sana-sini untuk menutupi kekurangan dana.

Pemerintah Provinsi Bengkulu mendukung kegiatan ini dengan penuh semangat. Mereka berharap Festival Sastra Bengkulu bisa menjadi agenda tahunan, sekaligus menjadi bagian kegiatan untuk menyongsong Program Visit 2020 Wonderful Bengkulu.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *