Puisi dari Bumi Raflesia Bag. 2

“Saya kira tahun depan kegiatan ini harus lebih besar lagi,” kata Rehal Ikmal. “Puncaknya nanti pada 2020.” Willy dan kawan-kawan pun siap menyahuti harapan pemerintah daerah itu.

Festival Sastra Bengkulu diisi berbagai kegiatan. Selain baca puisi yang disebar di sejumlah mata acara, ada peluncuran buku puisi bertajuk Jejak Cinta di Bumi Raflesia yang menghimpun karya seki- tar 130 penyair Indonesia dan negeri te lupa sarasehan sastra tangga. Tak dengan narasumber Sutardji Calzoum Bahri, Ahmadun Yosi Herfanda, dan F.X. Rudy Gunawan (tenaga ahli Kantor Staf Kepresidenan).

Ada pula wisata budaya ke rumah pengasingan Sukarno, rumah Fatmawati, Benteng Malborogh, Pantai Panjang, dan pusat-pusat oleh-oleh khas Bengkulu. Acara ditutup dengan wisata budaya ke kebun teh di Kecamatan Kabawetan, Kabupaten Kepahiyang, berjarak sekitar dua jam perjalanan dari Kota Bengkulu.

Kepahiyang merupakan kawasan puncaknya Bengkulu dengan hawa udara yang sejuk. Para sastrawan dijamu makan siang oleh Bupati Kepahiyang Hidayatullah Sjahid. Di sebuah lapangan di antara hamparan kebun teh, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kepahiyang— yang ditugasi oleh Bupati untuk menyiapkan kegiatan itu—mendirikan teratak besar dan dua panggung.

festival sastra

Ada panggung kecil untuk pembacaan puisi dan musik. Ada pula panggung besar untuk pertunjukan musik dol yang melibatkan puluhan pelajar setempat, dari tingkat SD hingga SMA dan umum.

Pertunjukan yang atraktif itu digarap oleh Edy Subagya, pemusik yang juga Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, bersama Benny Ariansyah.

Anggota Kelompok Bambu Runcing itu menabuh dol dengan berbagai formasi, bahkan dalam satu bagian, dol diturunkan dan ditaruh dibariskan di depan panggung—tetap menjadi bagian dari pertunjukan. Lalu beberapa anak usia sekolah dasar berlari menabuh dol itu.

Edy dan Benny memberikan sentuhan kekinian dalam garapan itu. Adapun musiknya, menurut Edy, “murni tradisi Bengkulu.” Pertunjukan musik dol itu menjadi penguat penting bagian akhir Festival Sastra Bengkulu, di samping pembacaan puisi oleh sejumlah sastrawan.

Bukan hanya sastrawan, Bupati yang menutup Festival Sastra Bengkulu pada siang itu juga membacakan sebuah puisi dari buku Jejak Cinta di Bumi Raflesia yang berjudul Mesin Jahit Engkol karya Wayan Jengki Sunarta.

Bupati Hidayat membaca puisi yang ditujukan untuk Fatmawati Sukarno itu dengan diiringi musik oleh Camat Kebawetan Miswanto dan biola oleh Rahma Ramadhani, remaja berprestasi di Kepahiyang.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *